Senin, 27 Januari 2014

Eksotisme Kaligua di Bumiayu

 Eksotisme Kaligua di Bumiayu

Warga di kawasan Brebes Selatan tentunya tidak asing lagi dengan Kaligua, ya sebuah tempat wisata agro di kaki Gunung Slamet. Kaligua mempunyai eksotisme alam yang selalu menggoda untuk dikunjungi, hawa dingin pegunungan yang sejuk membuat kita merasakan ketenangan yang tidak kita dapatkan di suasana kota. Mata kita akan dimanjakan secara visual, dengan hamparan gunung, lembah hijau, perkebunan sayur, pepohonan pinus, dan kebun teh yang sangat luas. Keberadaan kawasan kebun teh kaligua sudah ada sejak penjahahan kolonial Belanda. Pemerintah kolonial Belanda melalui divisi dagangnya yaitu V.O.C (Vereenigde Oost Indische Compaignie), mengeruk kekayaan alam bumi persada berupa rempah-rempah dan hasil buminya. Hal itu berlangsung cukup lama, dan seluruh wilayah Nusantara tidak luput dari usaha Belanda untuk mengeruk kekayaan alamnya. Hal itu pula berlaku di wilayah Brebes, hingga terciptanya perkebunan teh kaligua.

Sekilas Sejarah Kebun Teh Kaligua.
Keberadaan kebun teh di wilayah Brebes tepatnya di kecamatan Paguyangan, tentunya memiliki unsur historis yang menarik untuk dipelajari. Kesejarahan tersebut sejalan dengan proses kemerdekaan bangsa Indonesia, yang dulunya benama Hindia Belanda. Tanah Hindia merupakan tanah yang subur di negeri timur, negeri timur dimata orang Barat mempunyai kekayaan alam yang berlimpah. Dari mulai hasil bumi, rempah-rempah, batu mulia, minyak dan warisan budaya Hindu-Budha. Unsur alam dan budaya tersebut ternyata membuat bangsa Eropa berlabuh di tanah nusantara. Kedatangan bangsa Eropa (Inggris, Belanda) tersebut memang bermaksud untuk menjajah dan mengeksploitasi kekayaan alamnya. Disamping juga sebagai bukti untuk menunjukan keperkasaan suatu Bangsa tersebut. Bangsa Eropa yang mempunyai kebiasaan menaklukan daerah-daerah baru, dengan segala cara berusaha menaklukan daerah jajahan tersebut. Cara-cara yang kasar dan kadang tidak manusiawi dilakukan oleh Penajajah, untuk dapat mencapai tujuan guna menghasilkan kekayaan bangsanya sendiri.
Diwilayah Jawa hampir keseluruhannya telah dijajah oleh kolonial Belanda, karena itu di Jawa telah dijadikan pusat eksploitasi V.O.C yang sangat menguntungkan. Untuk dapat mengeruk keuntungan secara ekonomis, segala cara dihalalkan untuk dapat mewujudkannya. Tak terkecuali kekerasan dan kerja paksa dilakukan oleh pemerintah kolonial terhadap rakyat pribumi. Masyarakat pribumi merasakan penderitaan yang sangat panjang dan menyiksa. Begitu pula yang terjadi di kawasan Brebes, mengalami sistem kekerasan yang dilakukan pemerintah Belanda. Daerah kabupaten Brebes pada waktu itu merupakan daerah yang ramai walaupun masih banyak hutannya. Daerah pegungungan seperti Bumiayu dan sekitarnya, pada jaman pelaksanaan tanam paksa (cultuurstelstel) banyak ditanam  kopi, terutama di wilayah Paguyangan.
Jadi secara historis wilayah Brebes Selatan dulunya banyak ditanami kopi, tanaman teh baru dibudidayakan sekitar tahun 1837 di seluruh Jawa pada waktu itu. Sistem yang digunakan oleh Belanda dalam membuka lahan dan perkebunan dengan tanam paksa (cultuurstelstel). Sistem tanam paksa sendiri pertama kali diterapkan oleh Gubernur Jendral J. Van Den Bosch, yang diberlakukan sejak tahun 1830. Konsep ini sungguh jitu untuk mengeksploitasi ekonomi yang maksimal dalam dalam kondisi sosial ekonomi Jawa pada masa itu. Sistem tanam paksa sendiri memadukan unsur-unsur tradisional, yaitu menguasai tanah dan tenaga kerja lewat para penguasa pribumi, menggunakan paksaan untuk menanam tanaman ekspor kepada rakyat petani Jawa, dengan unsur-unsur modern yaitu manajemen produksi dan pemasaran di bawah monopoli pemerintah Kolonial. Tetapi pemerintah kolonial Belanda pada waktu itu lebih mengutamakan komoditas tanaman kopi dan tarum. Tanaman teh, tembakau, dan jati hanya komoditas tanaman kelas dua.
Tanaman yang mempunyai komoditi adalah kopi, sehingga di wilayah Brebes juga banyak ditanami kopi khususnya di wilayah selatan. Budidaya tanaman teh sendiri di picu oleh keberhasilan Koloni Inggris yang mengeksploitasi teh di Srilangka dan Assam di India bagian Timur, membuat pemerintah Hindia Belanda tertarik untuk mengembangkannya di Jawa. Di wilayah Brebes tentunya dibudidayakan tanaman teh di daerah pegunngan, karena salah satu syarat tanaman teh dapat tumbuh adalah di daerah pegunungan. Dan wilayah di Brebes yang terdapat pegunungan adalah di Brebes Selatan, tepatnya di daerah Paguyangan di kaki gunung slamet. Perkebunan teh Kaligua didirikan tahun 1899 oleh Cultuur Onderneming di Negeri Belanda, untuk perwakilan di Indonesia ditunjuk Van John Pletnu & Co yang berkedudukan di Jakarta. Tetapi dalam perkembangannya hingga tahun 1901 perusahaan ini di beli dan di kelola pengusaha Van de Jong. Dan pada masa pendudukan Jepang sekitar tahun 1942, pengelolaan kebun teh di ambil alih oleh Jepang.
Syarat penanaman teh tidak jauh dengan kopi, yaitu menggunakan tanah belukar atau tegal di lereng gunung atau perbukitan. Penanaman dan pemeliharaan kebun teh dilaksanakan dengan kerja-wajib oleh kuli kenceng seperti halnya kopi. Dapat dibayangkan ketika dulu sebelum ada kebun teh Kaligua, adalah hutan belantara dengan pepohonan yang besar dan rimbun. Sehingga untuk membuka lahan untuk perkebunan teh, membutuhkan pekerja untuk dapat menebang pohon-pohon di hutan. Melalui kekuasaan bupati inilah rakyat dikerahkan  untuk menebang pohon-pohon di hutan-hutan. Kerja-wajib tertua (yang diepergunakan oleh penguasa kolonial) ini disebut kerja Blandhong. Beratnya kerja-wajib blandhong sering menyebabkan rakyat melarikan diri ke kabupaten lain agar terbebas dari beban tersebut. Itulah sedikit cerita tentang para pekerja yang membuka lahan untuk budidaya tanaman teh di tanah Jawa tak terkeculai di Kaligua di Paguyangan.
Untuk melengkapi produksi teh tersebut, maka dari itu didirikanlah pabrik pengolahan teh untuk dapat dijadikan komoditas ekspor. Di Kaligua sendiri pendirian pabrik pengolahan teh tersebut, dikerjakan oleh para rakyat pribumi yang diperintah oleh pemerintah kolonial. Konon pada saat pembangunan pabrik, para pekerja membawa ketel uap dari Paguyangan menuju Kaligua ditempuh dalam waktu 20 hari. Peralatan tersebut dibawa dengan rombongan pekerja yang berjalan kaki naik sepanjang 17 km. Selama proses pengangkutan tersebut, para pekerja pada saat istirahat dihibur oleh kesenian ronggeng Banyumas. Sampai sekarang setiap memperingati HUT pabrik Kaligua setiap tanggal 1 Juni selalu ditampilkan kesenian tradisional tersebut. Dapat dibayangkan pekerjaan tersebut pada jaman itu belum ada transportasi modern, yang dapat mempermudah dan mempercepat suatu pekerjaan. Sehingga pekerjaan berat dikerjakan dengan tenaga manusia yang membutuhkan tenaga ekstra dan waktu yang cukup lama. Dengan pola kerja yang berat tersebut akhirnya kebun teh Kaligua dan sarana pendukungnya ada dan lestari sampai sekarang. Dan kebun teh Kaligua sekarang sudah menjadi magnet wisata yang potensial di wilayah Brebes Selatan, yang selalu ramai dikunjungi para wisatawan dari berbagai daerah.

Eksotisme Kaligua.
Hasil peninggalan kolonial Belanda tersebut sampai sekarang masih tetap terjaga, dan menjadi salah satu objek wisata andalan yang dipunyai oleh Kabupaten Brebes. Letak geografis dari Perkebunan teh Kaligua berada pada ketinggian 1200 - 2050 m dpl. Kondisi udara sangat dingin, berkisar 8° - 22° C pada musim penghujan dan mencapai 4° -12° C pada musim kemarau. Jadi tidak heran kalau wilayah perkebunan teh ini hampir selalu diselimuti kabut tebal. Perkebunan teh tersebut terletak di lereng barat Gunung Slamet (3432 m dpl) yang merupakan gunung tertinggi kedua di pulau jawa setelah Gunung Semeru. Dari salah satu tempat di perkebunan teh Kaligua kita dapat menikmati keindahan puncak gunung Slamet dari dekat, melalui puncak Sakub.
Untuk dapat mencapai ke pegunungan Kaligua dapat ditempuh dengan kendaraan umum atau dapat menggunakan sepeda motor. Lokasi wisata agro Kaligua terletak sekitar 10 kilometer dari arah kota Kecamatan Paguyangan, atau sekitar 15 kilometer dari Bumiayu. Jalur transportasi dapat ditempuh melalui jalur utara dari Brebes atau Tegal-Bumiayu-Kaligua, Cirebon-Bumiayu-Kaligua. Dan jalur selatan dari Purwokerto-Paguyangan-Kaligua, dimana transportasi jalur tesebut selalu ramai karena berada di jalur Provinsi. Semua transportasi umum tersebut kemudian harus berhenti di pertigaan Kretek, yang kemudian dapat dilanjutkan untuk dapat mencapai tujuan dengan menggunakan ojek atau anggkutan pedesaan. Bagi yang menggunakan kendaraan pribadi tentunya dapat lebih mudah untuk dapat sampai tujuan tanpa harus naik turun dari transportasi umum.
Ketika sudah berada di jalan utama yang menuju ke Kaligua, jalanan sudah mulai naik dan di kanan-kiri jalan terdapat rumah penduduk, sawah, sungai, pegunungan, lembah, dan hutan pinus. Jalan sudah mulai naik dan berkelok-kelok dan hawa pegunungan sudah mulai terasa. Akses jalan utama tersebut kondisinya masih mulus, sehingga mempercepat untuk dapat sampai ke lokasi. Ketika sudah memasuki desa Pandansari akan ditemui perkebunan sayuran, sayur yang ditanam di daerah tersebut berupa kentang, kobis, rangkok, dan sayuran lainnya. Hamparan hijau ladang sayur di kelilingi pepohonan rimbun memanjakan penglihatan kita, ditambah hawa dingin pegunungan yang sejuk membuat kita bisa berlama-lama menyelami keindahannya. Dari desa Pandansari naik ke atas lagi akan ditemui Telaga Ranjeng yang masih menyimpan banyak misteri dan cerita mistik.
Telaga Ranjeng yang terletak di antara desa Pandansari dan desa Taman, berada di tepi jalan utama sebelah kiri jalan. Untuk dapat masuk ke area Telaga Ranjeng kita tidak perlu berjalan jauh, hanya perlu memarkir kendaraan kita diarea tersebut dan kemudian dapat langsung masuk ke area Telaga tersebut. Telaga Ranjeng yang masih terjaga keasriaannya dikelilingi pohon yang sudah berusia ratusan tahun. Sehingga area tersebut terkesan rimbun karena banyak pepohonan dan tumbuhan semak yang tumbuh disekitar telaga tersebut. Yang menjadi istimewa dan unik adalah di telaga Ranjeng terdapat ribuan ekor ikan lele yang akan muncul dan mendekat ketika diberi makan. Untuk asal-usul dari ribuan ikan lele tersebut masih misteri, keberadaan ikan lele di telaga tersebut konon sudah ada sejak dulu. Menurut cerita dari warga sekitar jika kita mengambil ikan lele tersebut maka akan terjadi  bencana atau malapetaka. Memang dalam masyarakat Jawa terdapat hal-hal yang tidak diperbolehkan atau yang disesbut dengan pamali. Pamali dituturkan oleh para nenek monyang kita, supaya kita memerhatikan dan mematuhi peraturan yang ada. Seperti ketika berada ditempat yang masih asing atau sakral, kita dituntut untuk mematuhi aturan yang ada dan tidak merusak alam. Sehingga terjadi keseimbangan antara mikrokosmos dan makrokosmos, dengan terjaganya kondisi alam sekitar kita.
Dan biasanya pamali yang disampaikan oleh nenek monyang dalam bentuk metaphor, sehingga kita butuh waktu untuk dapat menafsirkannya. Tetapi pada intinya tujuannya adalah untuk kebaikan kita dan lingkungan sekitar atau alam dimana kita tinggal. Eksotisme dan keasrian Kaligua memang perlu kita jaga dan lestarikan, salah satunya adalah dengan berwisata dan mematuhi aturan yang ada. Setelah puas menikmati keindahan telaga Ranjeng yang masih menyimpan misteri, perjalanan dapat diteruskan menuju ke kebun teh kaligua yang hijau dan luas. Perkebunan teh Kaligua merupakan kawasan wisata agro dataran tinggi yang terletak Kaligua di Desa Pandansari. Kebun Kaligua dikelola oleh PT. Perkebunan Nusantara IX (Persero) Jawa Tengah dan merupakan diversifikasi usaha untuk meningkatkan optimalisasi aset perusahaan dengan daya dukung potensi alam yang indah. Hasil pengolahan perkebunan teh Kaligua adalah berupa produk hilir teh hitam (black tea) dengan merk “Kaligua” dalam kemasan teh celup dan serbuk. Jadi wisatawan yang berkunjung dapat langsung menikmati hangatnya teh hitam (black tea) Kaligua atau dapat membeli sebagai oleh-oleh.
Perkebunan teh yang hijau dan sangat luas tersebut tidak selesai kalau dijelajah selama satu hari. Luas dari kebun teh Kaligua yang mencapai luas 607,25 Ha, dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung untuk berwisata. Fasilitas pendukung untuk menjaga kebersihan lingkungan di area kebun teh, disediakan tempat sampah khusus yang dibagi menjadi dua yaitu sampah organik dan non-organik. Jadi ketika berkeliling kebun teh jagalah kebersihan dengan membuang sampah pada tempat yang telah disediakan. Untuk fasilitas yang lain seperti pos atau gasebo untuk istirahat terdapat di area kebun teh, sambil istirahat sekaligus dapat menikamati indahnya kebun teh yang hijau dan luas. Fasilitas lain seperti penginapan atau vila juga tersedia, untuk mereka yang ingin berlama-lama menikmati alam pegunungan yang indah. Di area kebun teh juga dapat dijadikan untuk camping, dan juga terdapat fasilitas untuk kegiatan outbond serta lapangan untuk kegiatan yang bersifat kelompok.
Selain fasilitas yang disediakan oleh pengelola dari dinas pariwisata, di area kebun teh Kaligua masih terdapat situs-situs bersejarah yang tidak boleh kita lewatkan. Situs seperti Gua Jepang, Tuk Bening, yang berada di balik bukit kebun teh. Gua Jepang merupakan salah satu situs sejarah peninggalan Jepang ketika menjajah Indonesia. Gua Jepang secara fungsional sebagai tempat persembunyian tentara Jepang ketika ketika selesai berperang dan sebagai tempat untuk mengatur siasat perang.  Gua Jepang memang terletak di daerah pegunungan, peninggalan Jepang berupa gua persembunyian hampir dapat di temui di seluruh pegunungan di Jawa. Untuk dapat masuk ke gua Jepang di area Kebun teh Kaligua harus didampingi oleh petugas. Karena kondisi gua yang gelap, lembab, sempit, dan becek, harus mempertimbangkan unsur keselamatan. Tak jauh dari gua Jepang terdapat mata air, yaitu Tuk Bening dengan airnya yang jernih dan segar. Konon menurut cerita, sumber air ini menjadi cikal bakal nama Kaligua.
Di aera kebun teh tersebut juga terdapat makam para sesepuh, yang dulu membuka lahan perkebunan Kaligua. Makam tersebut antara lain makam Van Dee Jong, Mbah Joko, Aki Soka, dan Aki Waslim. Kebun teh Kaligua selalu menarik untuk dikunjungi, dengan berbagai keindahan alamnya dan situs-situs bersejarahnya. Kebun teh Kaligua merupakan wisata andalan dari Kabupaten Brebes, kita sebagai warganya hendaknya berusaha menjaga dan melestarikan warisan sejarah tersebut. Sehingga wisata dengan panorama alam yang ada di wilayah kabupaten Brebes dapat terus lestari. Maka dari itu kita dituntut aktif dalam melestarikan wisata alam dan berwisata dengan sadar akan peraturan. Dengan berwisata dan mematuhi aturan yang ada, diharapkan dapat terjadi keseimbangan antara alam dan manusianya.[]










  












Rabu, 22 Januari 2014

BIOSKOP SENA DALAM KENANGAN


BIOSKOP SENA DALAM KENANGAN
Masyarakat kota Bumiayu dan sekitarnya tentu tidak asing lagi dengan nama Gedong Bioskop Sena. Sebuah tempat pertunjukan masyarakat yang menyajikan film-film layar lebar, baik film Hollywood, India, Mandarin, ataupun film Nasional. Tetapi semuanya itu kini hanya tinggal kenangan dan menjadi sebuah ceritera dari para orang tua kita. Bioskop Sena merupakan sebuah kebanggan bagi masyarakat Bumiayu dan sekitarnya. Dimana pada waktu itu periode tahun 50-an sampai 90-an, bioskop Sena ramai dikunjungi masyarakat Brebes Selatan untuk menyaksikan film-film favorit mereka. Namun segala sesuatunya memang mempunyai umur atau masa di dunia ini. Begitu juga nasib Gedong Bioskop Sena, sekarang hanya tersisa puing-puing yang tak terawat.
Keadaan semacam ini memang di pengaruhi banyak faktor, di antaranya adalah sengketa kepemilikan gedung atau lahan tersebut, dan pengaruh teknologi yang menggantikan film layar lebar ke bentuk yang lebih portabel yaitu vcd dan dvd dan juga internet. Kondisi gedung tersebut sekarang sungguh memprihatinkan. Kondisinya tinggal puing hanya menyisakan bagian depan gedung tersebut dan tulisan “SENA”, yang masih terpasang di bagian atas depan gedung tersebut. Walaupun bagian samping gedung tersebut masih ada tetapi kondisinya sudah tidak utuh lagi. Gedung Sena bukan hanya sebuah bioskop yang menyajikan pertunjukan film, tetapi jika ditelusuri lebih jauh gedung tersebut memilki nilai historis yang penting dan sebagai saksi bisu sejarah di Bumiayu.

Sekilas Sejarah Gedong Sena.
Gedung yang terletak di jalan Ahmad Dahlan sebelah timur kantor Polsek Bumiayu, mempunyai perjalanan panjang sampai menjadi gedung bioskop Sena. Secara historis bioskop Sena memang mempunyai sejarah yang membekas di hati masyarakat, dan menjadi saksi bisu sejarah di Bumiayu. Gedong Sena berdiri di lahan bekas sekolah milik Tiong Hwa Hwee Koan (THHK). Yang awal pendiriannya dimulai sekitar tahun 1951. Di mana sebelum berdirinya Gedong Sena, yaitu pada tahun 1947 terjadi Agresi Militer Belanda I. Yang berimbas kepada keamanan nasional bangsa Indonesia yang baru dua tahun menikmati kemerdekaannya. Dimana imbas tersebut juga menyeluruh sampai ke pelosok penjuru tanah air, tak terkecuali di Bumiayu. Yang terjadi di Bumiayu adalah ketidakstabilan dalam keamanan dan terprovokasinya warga pribumi.
Pada saat terjadi agresi militer belanda I, di Bumiayu terjadi kerusuhan yang mengakibatkan dibakarnya bangunan-bangunan milik warga Tiong Hwa. Bangunan milik warga Tiong Hwa di bakar masa, dan tak terkecuali sekolah milik Tiong Hwa Hwee Koan (THHK) ikut dibakar pula. Kerusuhan tersebut di picu bahwa warga Tiong Hwa tidak pro terhadap kemerdekaan. Sehingga yang terjadi adalah kebencian rakyat pribumi terhadap warga Tiong Hwa, dan memuncak pada pembakaran bangunan-bangunan milik Tiong Hwa. Kerusuhan antara warga pribumi dan warga Tiong Hwa pada waktu itu, menurut sejarah adalah karena politik adu domba penjajah Belanda. Menurut sumber sejarah yang berkaitan dengan peristiwa Agresi Militer Belanda I, bahwa warga Tiong Hwa dimanfaatkan oleh Belanda sebagai mata-mata. Di wilayah Brebes pada waktu itu warga Tiong Hwa dijadikan mata-mata Belanda untuk mengetahui “sarang” gerilya warga pribumi. Regu mata-mata Tiong Hwa disebut Po Ang Tui (PAT). Dari kausal tersebut maka timbullah kebencian rakyat in lander terhadap warga Tiong Hwa, dan berakibat kerusuhan antar etnis dan kekacauan keamanan.
Agresi Militer Belanda I mengakibatkan ketidakstabilan dalam segala bidang, bagi bangsa yang baru merdeka tersebut. Hal ini berimbas pada keamanan nasional, dan terhentinya aktivitas para warga pribumi. Dikatakan sepanjang Revolusi (1945-1949), lokasi bekas sekolah Tiong Hwa di Bumiayu menjadi sepi. Hal ini dikernakan kondisi kemanan yang tidak kondusif dan warga masih khawatir dengan Agresi Belanda. Tetapi keadaan itu tidak berlangsung lama, pada tanggal 29 Juni 1949 Belanda meninggalkan Yogyakarta. Secara tidak langsung kedaulatan bangsa Indonesia kembali utuh. Pada waktu itu pula Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia Serikat (RIS) kecuali Irian Barat pada bulan November 1949, yang berarti daerah-daerah yang diduduki Belanda termasuk kabupaten daerah Brebes harus kembali ke pangkuan RIS.
Setalah Belanda angkat kaki dari Bumi Pertiwi, kondisi keamanan nasional kembali pulih. Aktifitas warga kembali berangsur normal dan diimbangi dengan perbaikan infrastuktur. Setelah kondisi kota Bumiayu yang berangsur aman dan kondusif, aktivitas warga juga kembali seperti biasa. Warga Bumiayu seolah membutuhkan kesegaran setelah kondisi yang carut marut akibat agresi militer Belanda. Maka dari itu pada 1951 di bangun sebuah gedung hiburan yang berdiri di atas tanah bekas sekolah Tiong Hwa tersebut. Gedung pertunjukan tersebut pada awalnya diberi nama Venus. Tetapi kemudian nama Venus diganti dengan Sena, karena pada saat itu di nilai terlalu kebarat-baratan, disebabkan semua yang berbau barat di larang pemerintah. Dimana pada waktu itu kepemimpinan bangsa Indonesia di pimpin Soekarno, yang mempunyai kebijakan anti Imperealisme Barat.
Pada awalnya pembangunan gedung Sena tersebut masih sebagai gedung pertunjukan, sebagai sarana hiburan rakyat dan tentara sehabis perang kemerdekaan. Lebih jauh kompleks sekolah Tiong Hwa tersebut pada jaman penjajahan, memang kerap dijadikan sebagai tempat pertunjukan. Jadi sebelum gedung Sena berdiri, memang pada waktu itu kompleks sekolah tersebut telah menjadi pusat hiburan masyarakat Bumiayu. Pada jaman pendudukan Belanda dan Jepang, kompleks tersebut sering dijadikan pementasan ketoprak, sandiwara dan tonil. Dan tentunya pada masa itu merupakan hiburan yang menarik bagi masyarakat Bumiayu dan sekitarnya.
Setelah berdiri sebuah gedung pertunjukan yang awalnya bernama venus dan berubah menjadi sena, suasana hiburan di kota Bumiayu menjadi semarak. Gedung venus fungsi utamanya adalah sebagai gedung pertunjukan tonil, sebuah pertunjukan khas Belanda yang dipentaskan dan sebagai pengobat rindu tentara Belanda pada tanah kelahirannya. Tetapi seiring dengan perkembangan zaman, gedung venus kemudian beralih fungsi menjadi sebuah bisokop. Nama venus masih tetap digunakan, hanya saja pertunjukan yang ditampilkan adalah film. Dimana film-film yang tayang pada waktu itu, adalah film “bisu” yaitu sebuah film hitam putih dan tidak bersuara.
Walaupun hanya menyaksikan film bisu, masyarakat Bumiayu pada waktu cukup terhibur. Film bisu seperti Charlie Chaplin sering ditayangkan di bioskop venus tersebut. Nama venus kemudian berganti menjadi Sena sekitar tahun 1955, dan pada tahun 1965 nama Sena sudah sangat terkenal di lingkungan masyarakat Brebes Selatan. Sejak saat itulah Gedong Sena menjadi tempat hiburan andalan dan favorit masyarakat Bumiayu dan sekitarnya. Pada periode awal Sena menjadi bioskop yang menayangkan film-film Barat dan Nasional. Dengan adanya hiburan berupa film format layar lebar, menjadi wahana hiburan dan sekaligus informasi bagi warga bumiayu. Film-film yang ditayangkan bioskop Sena selalu menarik dan dipenuhi para penonton dari sekitaran Bumiayu, seperti dari Sirampog, Tonjong, Paguyangan , Bantarkawung dan Salem. Dimana kota Bumiayu menjadi center dalam segala bidang bagi kecamatan-kecamatan disekitarnya, disamping kondisi demografi yang mendukung sebagai pusat aktivitas masyarakat.


Memori dengan Gedong Sena.
Sebagai warga masyarakat Bumiayu tentunya mempunyai kenangan dengan Gedong Sena. Dimana setiap periodenya selalu menyuguhkan film-film yang menghibur dan menarik untuk selalu ditonton. Film-film yang ditayangkan mulai dari film-film Hollywood, mandarin, India, samapai film Nasional, tidak pernah sepi oleh pengunjung yang selalu ingin meyaksikan film favoritnya. Selera setiap individu berbeda dalam mengapresiasi karya seni, dalam konteks ini apresiasi terhadap film tentunya juga berbeda. Di Gedong Sena film yang disajikan memang variatif, tetapi mempunyai penikmat khusus. Film Hollywood tentunya tetap menjadi favorit dalam dunia perfilman.
Di bioskop Sena tidak hanya film Hollywood yang menjadi menu utama, setidaknya film-film India dan Mandarin selalu mendapat tempat di hati warga Bumiayu dalam menikmatinya. Di samping itu film-film Nasional juga tidak kalah ramai dengan film Barat, selalu saja ada yang menonton. Film Hidustan selalu ramai di kunjungi ketika di tayangkan di Gedong Sena. Para penontonya datang dari wilayah Bumiayu hingga ke pelosok, seperti Sirampog, Bantarkawung dan Paguyangan. Begitu juga dengan film Mandarin tidak kalah ramai dengan film India, karena produksi film dari tiap negara mempunyai ciri khas masing-masing. Sehingga selalu asik dan menarik untuk di tonton, film India identik dengan lagu dan tariannya dalam setiap film. Sedangkan film Mandarin khas dengan laga yang cepat dan sedikit lelucon di beberapa produksi filmnya.
Karakteristik dari tiap film tersebut tentunya memetakan para penikmat atau audiens dalam mengapresiasinya. Begitu juga dengan film-film Nasional yang ditayangkan di Bioskop Sena juga senantiasa dipenuhi para penonton fanatiknya. Dunia perfilman Nasional memang dari setiap periode mempunyai cirikhas masing-masing, latar budaya dan sosial mempengaruhi dalam produksi film Nasional. Film-film Nasional identik dengan drama, action, horor, sensualitas dan juga komedi. Dunia perfilman Nasional memang mengalami pasang surut, sehingga yang timbul adalah bagaimana cara mempertahankan kwalitas film. Pada periode 80-90-an, di bioskop Sena sering ditayangkan film-film Nasional dari mulai horor, action, drama, sensualitas hingga komedi. Film-film dengan narasi cerita tersebut senantiasa hadir dalam layar lebar di Gedong Sena.
Film dengan cerita silat atau pendekar pada era 90-an, ramai ditonton oleh para warga Bumiayu. Penulis ingat dulu ada sebuah tradisi dari beberapa sekolah di Bumiayu, menggiring para siswanya untuk menonton film Nasional yang di putar di Bioskop Sena. Film yang menggelorakan perjuangan dan budaya bangsa Indonesia, diharapkan dapat menumbuhkan kecintaan terhadap film Nasional. Film-film seperti Fatahilah, Saur Sepuh dan Tutur Tinular, dan juga Rhoma Irama, ramai ditonton oleh para warga di Bumiayu dari semua kalangan juga oleh setiap umur. Film-film Rhoma Irama juga selalu ramai di tonton warga Bumiayu. Karena film Rhoma mengandung nilai budaya dan juga membawa misi moral dan sosial dalam setiap film, disamping misi humanisme lainnya. Film komedi Warkop juga sering ditayangkan di Bioskop Sena, film yang selalu mengundang tawa para penontonya menjadikan film Warkop senantiasa ditunggu.
Film-demi film terus ditayangkan oleh Bioskop Sena dari mulai siang hinggga malam hari. Dari siang sampai malam Sena selalu ramai dikunjungi oleh warga Bumiayu dan sekitarnya. Tetapi mulai rentang waktu 90-an akhir, Sena mulai sepi dan ditinggal para penggemarnya. Banyak faktor yang mempengaruh kenapa bisnis dunia perfilman mulai sepi. Salah satu faktor adalah perkembangan zaman dan kemajuan dibidang teknologi, menyebabkan minat menonton bioskop berkurang. Disamping juga kondisi sosial, politik dan ekonomi yang mendera Bangsa Indonesia para akhir 90-an. Dimana pada waktu itu terjadi kudeta oleh kelompok reformis, dan menggulingkan kepemimpinan Suharto. Tetapi faktor yang paling berpengaruh adalah pergeseran dalam format film, sehingga mengubah dalam proses apresiasi karya film tersebut.
 Dengan adanya teknologi digital yang portabel, membuat dunia perfilman dan bisnis film layar lebar mulai sepi. Dengan adanya teknolgi seperti video compac disc (vcd), digital video disc (dvd), membuat film semakin dapat dengan mudah diaskses melalui teknologi portabel. Format film yang semakin simple membuat masyarakat Bumiyu berpindah dalam menikmati sebuah film. Masyarakat semakin pragmatis dalam setiap segi kehidupan tak terkecuali dalam menikmati sebuah film. Walaupun keberadaan vcd dan dvd pada waktu termasuk barang baru, karena bersifat baru tersebut masyarakat penasaran dan ingin mencobanya. Dengan adanya teknolgi baru tersebut di lingkungan kota Bumiayu, muncul penyewaan vcd dan dvd yang menyediakan ragam film. Disisi lain kondisi ekonomi bangsa Indonesia juga sedang dalam  kondisi krisis, sehingga banyak perusahaan atau bisnis yang gulung tikar. Hal ini karena perusahaan tidak dapat menutup biaya produksi.


Situasi semacam itu membuat Bioskop Sena tutup, Sena tutup atau berhenti beroperasi sekitar akhir tahun 1997. Setelah Sena tutup tentunya warga Bumiayu merasa kehilangan, sebuah tempat hiburan bioskop yang pernah berjaya kurang lebih lima dekade. Setelah tutup, Gedong Sena masih berdiri utuh dan masih terpampang poster-poster film di dindingnya. Sena masih berdiri kokoh tetapi tidak ada aktivitas seperti biasanya. Hari-hari setelah Sena tutup kompleks tersebut mulai sepi, hanya ramai oleh aktivitas pendidikan sekolah yang ada disekitarnya. Aktivitas hiburan sudah mulai hilang, warga Bumiayu sudah tidak dapat lagi menikmati suguhan layar lebar. Mereka sudah dapat menonton film lewat vcd, dvd, dan lewat televisi.
Tetapi bagi sebagian warga Bumiayu masih memendam kerinduan terhadap Gedong Sena. Itu terbukti setelah tutup beberapa tahun, Gedong Sena buka kembali sekitar tahun 2001-2002. Penulis masih ingat dimana pada waktu Sena buka kembali, masih saja ada penonton yang datang untuk menonton pemutaran film baru. Penulis sendiri serasa tidak percaya atau seolah mimpi, karena ingatan tentang Sena buka kembali serasa samar-samar. Tetapi memang Sena pernah buka kembali pada tahun tersebut, dan masih saja ada penggemar fanatiknya dan mendatangi Sena. Tetapi kejadian itu tidak bertahan lama, hanya sekitar beberapa bulan saja kemudian tutup lagi sampai dengan kondisi yang sekarang. Setalah Sena tutup  untuk yang kedua kalinya, gedung tersebut dibiarkan kosong dan tidak digunakan untuk kegiatan.

Sena dan Musik Underground
Sena yang sudah tutup tidak lagi dimanfaatkan untuk kegiatan-kegiatan, gedung tersebut dibiarkan kosong dan tidak terurus. Tetapi disisi lain, dimana di Bumiayu pada waktu itu sedang tumbuh dan berkembang komunitas musik Underground. Komunitas musik ekstrim tersebut tertampung dalam wadah Bumiayu Underground Comunity (BUC). Dimana nama awal untuk komunitas tersebut adalah Bumiayu Corpse Grinder (BCG), dimana komunitas tersebut mulai muncul dan berkembang di Bumiayu sekitar tahun awal tahun 2000. Komunitas Underground di Bumiayu yang baru muncul tersebut, tentunya ingin menunjukan eksistensi kelompok mereka. Salah satunya adalah dengan mengadakan event atau acara musik yang menyajikan musik-musik keras. Idealnya dalam komunitas musik Underground tertanpung berbagai jenis musik, diantaranya adalah Black Metal, Ghotic Metal, Thrash Metal, Death Metal, Brutal Death, Grind Core dll.
Event pertama yang di adakan oleh kelompok Bumiayu Corpse Grinder (BCG), adalah Bumiayu Histeris I pada tanggal 17 Agustus 2000 bertempat di gedung Kawedanan Bumiayu. Dimana grup yang tampil antara lain Santet, Soulsick, Destruction, Horror, Trotoar Corp, Laknat, Akar dan Runtah Fir’aun. Event tersebut sebagai bukti bahwa di Bumiayu ada komunitas musik ekstrim dan patut diperhitungkan. Setelah event pertama sukses, event-event selanjutnya rutin di gelar hampir setiap tahun. Untuk penyelenggaraan event selanjutnya masih di gedung kawedanan dan selanjutnya di gedung Hok Gwan. Event Underground dengan judul seperti Bumiayu Histeris, Bumiayu Underground, Bumiayu Bawah tanah, Tembang Njero Lemah, intens diadakan setiap tahun di Bumiayu.
Event Underground tersebut memang selalu dipadati oleh para penggemar fanatiknya, hanya saja tempat penyelenggaraannya masih jauh dari nyaman. Disadari atau tidak Bumiayu pada waktu itu, memang belum mempunyai tempat pertunjukan yang layak. Bumiayu belum mempunyai gedung serba guna yang layak untuk berbagai seni pertunjukan. Dan bahkan sampai sekarang Bumiayu memang belum ada gedung serba guna, ke depannya Bumiayu diharapkan mempunyai gedung serba guna atau gedung kesenian. Jadi dengan kondisi semacam itu memaksa event-event musik yang berskala kecil, selalu di adakan di Gedung Kawedanan (eks. Kawedanan) dan event besar di Lapangan Asri.
Kondisi yang tidak mendukung semacam itu membuat komunitas musik di Bumiayu, mencari tempat-tempat alternatif untuk dijadikan tempat pertunjukan. Di antara tempat yang dijadikan tempat alternatif untuk pertunjukan, adalah gedung Hok Gwan yang terletak di kompleks lap Asri. Dan tentunya adalah Eks. Gedong Sena yang sempat dua kali dijadikan untuk event musik Underground di Bumiayu. Event Underground yang sempat terdokumentasikan oleh penulis antara lain,  adalah Tembang Njero Lemah 30 Nopember 2003. Dan event Underground terakhir yang di adakan di eks Gedong Sena, adalah Bumiayu Undergroun IV 8 Februari 2004. Kedua Event tersebut menjadi titik kulminasi komunitas Underground Bumiayu, yang selanjutnya musik ekstrim di kota tersebut vakum.

Sedikit untuk mengingat event tersebut di atas, Tembang Njero Lemah pada tahun 2003 yang diadakan di eks.Bioskop Sena cukup ramai dipenuhi massa hitam. Event tersebut menampilkan band-band seperti Santet, Dhemit, Holly Guardian Angel, Anathema Dismorpheus, Zoilus, Demented, Sevile Dementia, Durgalameta, Authentic, dll.  Tahun selanjutnya yaitu pada tahun 2004 adalah Bumiayu Underground IV, acara ini menjadi penutup dan sebagai antiklimaks dari sebuah komunitas musik ekstrim di Bumiayu. Dimana pada event tersebut mendatangkan grup keras papan atas Indonesia yaitu Betrayer, yang melejit dengan hit Bendera Kuning. Selain Betrayer tampil juga band-band dari luar daerah seperti Sentet, Grafenberg, Against(Purwokerto),No Life, Kidung Kematian (Semarang), Erotic Nightmare (Brebes) dan Nilar Dunyo (Cilacap). Event yang terakhir ini sebagai penanda komunitas Underground Bumiayu akan vakum.
Jadi Gedong Sena setelah tutup dan tidak digunakan, justru dimanfaatkan oleh komunitas musik yang ada di Bumiayu salah satunya adalah komunitas musik Underground. Kondisi seperti itu dikarenakan tidak adanya sebuah gedung serba guna atau gedung pertunjukan yang layak, sehingga komunitas yang ada di Bumiayu memanfaatkan tempat-tempat alternatif seperti eks. Bioskop Sena. Sekali lagi disini Gedong Sena juga menjadi saksi sejarah perkembangan musik di kota Bumiayu. Gedong sena tetap menjadi sebuah tempat yang akan selalu di ingat oleh warga Bumiayu. Dimana secara historis memang di kompleks tersebut dulunya sebagai tempat pertunjukan rakyat. 

Dan diharapkan ke depannya di Bumiayu, akan mempunyai sebuah tempat pertunjukan atau gedung serba guna. Sehingga iklim berkesenian di Bumiayu akan tumbuh aktif dan dinamis, dimana gedung pertunjukan berperan penting dalam scene dunia seni. Dan tidak memnutup kemugkinan di kompleks eks.Gedong Sena dapat dibangun sebuah Gedung Pertunjukan Rakyat. Mengingatkan pada periode dahulu dimana seni yang menghibur rakyat akan selalu ramai, karena seni itu secara substansial akan disajikan dan dinikmati oleh audiens(rakyat). Penulis sebagai salah satu pelaku dan pemerhati seni di Bumiayu, mengharapkan kedepannya Bumiayu akan mempunyai sebuah gedug Pertunjukan Rakyat. Mudah-mudahan dari sebuah catatan kecil ini, dapat menjadikan wacana bagi para pembaca dan pelaku seni di Bumiayu dan sekitarnya. Terakhir  saran dan kritiknya penulis tunggu untuk menyempurnakan catatan kecil ini, yang menurut penulis masih jauh dari sempurna.
Salam Budaya!!
Referensi
·         Nara Sumber dari Berbagai Tingkat Usia.
·         Radar Brebes, Selasa 11 April 2013.
·         Sejarah Kabupaten Brebes (e-book).