Senin, 27 Januari 2014

Sejarah dan perkembangan kelompok seni rupa di Bumiayu.


Sejarah dan perkembangan kelompok seni rupa di Bumiayu.
Bumiayu adalah kota kecil yang terletak di ujung selatan kabupaten Brebes, mayoritas penduduknya berprofesi sebagai pedagang, petani dan buruh. Tetapi di balik semua itu Bumiayu menyimpan potensi di bidang seni rupa. Kapan tepatnya gerakan seni rupa itu muncul di Bumiayu? Secara historis memang tidak ada narasi yang jelas tentang dunia kesenian. Tidak ada seniman atau hasil karya yang dapat menjadi rujukan dalam pemetaan sejarah tersebut. Tetapi di Bumiayu wilayah barat, tumbuh dan berkembang kerajinan produksi alat musik tradisional, yaitu rebana atau kencer dalam bahasa Bumiayu-an. Kita tahu bahwa kota Bumiayu identik pula dengan nilai-nilai religiusnya, bumiayu dimata orang asing terkenal dengan sebutan “Kota Santri”. Secara tidak langsung keriligiusan tersebut membawa imbas dalam bidang kesenian yaitu seni musik tradisional dan seni kerajinan. Pusat kerajinan alat musik tradisional tersebut berada di desa Kaliwadas, disitu diproduksi alat tradisional dan modern. Alat-alat yang di produksi antara lain , rebana, bedug, drum, guitar dan lainnya.
Kapan tepatnya kemunculan kesenian yang Islami di Bumiayu  memang tidak diketahui secara pasti karena keterbatasan dalam literatur. Apabila ditelusuri lebih jauh kebudayaan tradisional religi ini memang tidak lahir murni di Indonesia, khususnya kebudayaan dengan nuansa islami. Kesenian tradisional yang ada di Indonesia adalah karena pengaruh dari bangsa asing. Hasil kerajinan tersebut mungkin di pengaruhi kebudayaan Islam yang datang di nusantara. Menurut Buya Hamka, Islam dibawa ke Indonesia oleh bangsa Arab dan masuk ke Indonesia pada abad ke-7. Mengenai sejarah musik rebana, konon berasal dari Timur Tengah, di nusantara seni rebana dibawa oleh para pedagang dari Arab yang tinggal di pesisir pantai Indonesia. Hingga dalam perkembangannya alat tersebut bisa di produksi oleh masyarakat pribumi.
Para anggota Sanggar Karya Lestari berpose di depan karya pada saat pameran pembangunan di Bumiayu.
Tetapi kemunculan pusat kerajinan  itu tidak dapat dijadikan tolok ukur dalam pemetaan seni rupa di Bumiayu. Kesenian tersebut masuk dalam kategori kesenian tradisional, walaupun kerajinan itu masuk dalam kategori seni rupa, tetapi orientasinya lebih kepada mass production bukan fine art. Maka dari itu tidak masuk dalam kategori fine art, di mana yang akan kita bahas di sini adalah seni rupa yang berbasiskan seni murni, yaitu Seni Lukis, Seni Grafis, dan Seni Patung. Sebagai tonggak munculnya gerakan seni rupa modern di kota Bumiayu kira-kira di mulai pada kira-kira tahun 1983, ditandai dengan munculnya Sanggar Karya Lestari. Sanggar ini dipimpin oleh Sudarsono yang menampung teman-teman yang mempunyai kemampuan dibidang seni rupa khususnya seni lukis. Para anggotanya antara lain adalah Nurkholis, Sobirin, Sutrisno (Alm), Slamet (Alm), Jumaris (Alm), Irfan, Junaedi dan Suyatno. Sudarsono yang mempunyai latar belakang akademis di bidang seni rupa, beliau pernah megeyam pendidikan seni rupa di Yogyakarta. Beliau belajar di SSRI (sekarang SMSR), mengambil jurusan seni rupa. Bermodalkan keahlian di bidang tersebut Sudarsono memotivasi teman-teman untuk mendirikan perkumpulan atau wadah yang berfungsi sebagai ajang kreatifitas seniman Bumiayu  pada waktu itu, maka di bentuklah Sanggar Karya Lestari.
Dengan demikian gerakan seni rupa yang dipimpin oleh Sudarsono adalah termasuk dalam kategori seni rupa modern. Menurut Sanento Yuliman dalam bukunya Dua Seni Rupa mengatakan bahwa yang dimaksud dengan seni rupa modern Indonesia bukanlah lanjutan dan juga bukan transformasi seni tradisional, baik seni tradisional salah satu maupun seluruh etnis di Indonesia. Dengan demikian sudah jelas bahwa kemunculan Sanggar Karya Lestari, lepas dari pengaruh dari kesenian tradisional yang ada di kota tersebut.
Sejak kemunculan sanggar tersebut dunia kesenian di kota kecil tersebut menjadi produktif dan dinamis. Dengan berbekal kemampuan otodidak yang dimiliki dari setiap anggotanya mereka berkarya dengan penuh semangat. Karya-karya yang dihasilkan dari para anggotanya bermacam aliran mulai dari Naturalisme, Dekoratif, Realistik, Kaligarfi, dan Ekspresionisme. Karya mereka masih terpengaruh seniman-seniman besar Indonesia seperti Raden Saleh, Basuki Abdulah, Affandi, Sudjojono, Amri Yahya, dan yang lainnya. Seniman yang bernaung disanggar Karya Lestari cukup produktif dalam mengasilkan karya-karyanya. Dengan segala kemampuan mereka melukis dengan meggunakan media apa saja seperti pensil, pastel, konte, arang, dan cat minyak. Karya-karya yang dihasilkan dari belajar bersama mempunyai karakter tersendiri, memang sebuah karya seni mengekspresikan jiwa setiap senimannya. Sebagaimana yang dikatakan Sudjojono “Kalau seorang seniman membuat barang kesenian, maka sebenarnya buah kesenian tadi tidak lain dari jiwanya sendiri yang kelihatan. Kesenian adalah jiwa yang ketok , jadi kesenian adalah jiwa”, Demikian statement yang diungkapkan oleh pendiri Persagi.

Salah satu event pameran dari Sanggar Karya Lestari,
Tampak ketua sanggar Bpk. Sudharsono (duduk) dan Nurkholis (bediri)
Tetapi proses berkesenian mereka memang dipengaruhi oleh masyarakat sekitar yang masih awam dalam dunia kesenian. Akibatnya karya yang dihasilkan masih sebatas realistik dan enak untuk dilihat atau di nikmati. Karya-karya yang dihasilkan adalah jenis Lukis Potret, Lukisan Pemandangan, Lukisan Kaligrafi, dan Dekoratif. Secara teknik memang sudah bagus dan artistik, namun secara konseptual mungkin masih ada kekurangan. Kita tahu  di dunia kesenian  ada beberapa konstruksi yang saling melengkapi dan mengisi. Komponen yang pertama adalah seniman, masyarakat penyangga, lembaga kesenian, kritikus dan media. Keberlangsungan sanggar tersebut memang berjalan dengan komponen-komponen kesenian tersebut. Tetapi dengan segala kekuatan dan energi, Sudarsono bersama teman-temannya terus bergerak aktif mengadakan dan mengikuti pameran-pameran.
Kemunculan sanggar tersebut membuat suasana yang berbeda di kota Bumiayu, ketika ada sebuah acara atau kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah setempat, sanggar Karya lestari ikut andil dalam perhelatan tersebut. Tetapi sanggar tersebut tidak hanya pameran di dalam kota, tetapi merambah keluar seperti pameran di Purwokerto, dan Brebes. Pada waktu itu memang kondisi dunia kesenian di Bumiayu tidak berjalan mulus, sehingga para seniman Bumiayu yang tergabung dalam sanggar tersebut hanya berpameran di kota-kota tetangga. Memang sungguh ironis ada sebuah perkumpulan seniman yang mencoba membawa nama daerahnya, kurang begitu di perhatikan oleh pemerintah setempat. Tetapi seniman-seniman yang bernaung di Sanggar Karya Lestari mencoba untuk tetap eksis dalam berkesenian. Mereka terus berkarya, menerima pesanan-pesanan lukisan, mendidik anak-anak di sanggar, dan tetap berpameran. Selama eksisnya sanggar tersebut tidak ada pencapaian atau prestasi yang membanggakan, sanggar tersebut hanya aktif di Bumiayu dan kota-kota tetangganya. Menurut narasumber yaitu saudara Suyatno, Sanggar Karya Lestari mulai non aktif pada tahun 1992. Bubarnya sanggar tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain adalah karena kesibukan dari masing-masing anggotanya, pemerintah setempat yang kurang mendukung, dan masalah eksternal lainnya.
Suasana keramaian pameran yang diadakan oleh Sanggar Karya Lestari.
Setelah bubarnya sanggar tersebut dunia kesenian di Bumiayu mengalami kevakuman yang cukup lama. Kevakuman tersebut membawa pengaruh yang cukup signifikan dunia kesenian di kota Bumiayu, tidak ada kegiatan berkesenian yang membanggakan bagi masyarakat , mungkin hanya pameran-pameran di tingkat sekolah. Kevakuman tersebut disikapi seniman-seniman eks-sanggar Karya lestari untuk tetap berkarya, dengan intensitas yang tidak begitu greget. Hingga pada akhir tahun 1999 muncul perkumpulan anak muda Bumiayu, yang dipimpin pemuda yang bernama Heppy. Mereka muncul ke publik dengan membawa panji-panji kesenian, dan menamakan perkumpulan mereka dengan nama Sanggar Kulit. Dan para anggota awal yang bergabung dengan sanggar ini antara lain Aji, Yono, Iqbal, dan Ferry Kemunculan Sanggar Kulit yang di ketuai oleh Heppy tidak berjalan mulus, banyak masalah ekternal yang menghampiri. Salah satunya adalah perselisihan antara sanggar dan pihak luar yang ingin mengambil alih dan memanfaatkan. Hingga pada akhirnya kepemimpinan Sanggar pindah tangan kepada Haris Zulfikar yang akrab disapa Agep, pemuda pendatang yang juga aktif di seni rupa.
Hinga pada akhirnya sanggar tersebut diberikan fasilitas berupa gedung dan seperangkat alat kesenian oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Daerah. Dan sanggar ini menempati gedung milik Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, yang berlokasi di depan Rumah Sakit Bumiayu. Dengan kemudahan yang didapat tersebut, seharusnya sanggar tersebut bisa aktif dan produktif dalam berkesenian. Tetapi fasilitas itu tidak daimanfaatkan secara maksimal dan orientasi dari perkumpulan tersebut lebih kepada seni pertunjukan atau parade band. Anggota yang bergabung di sanggar ini mempunyai keahlian di bidang seni lukis, musik, dan fotografi. Karya-karya dari anggotanya yang mempunyai keahlian dalam melukis masih berorientasi kepada aliran Realistik, Naturalisme, Kaligrafi, dan seni lukis potret. Mereka cukup aktif  dalam berkarya dan pameran di Bumiayu , dan sering mengadakan acara pertunjukan atau parade band.
Sanggar Kulit hanya sedikit memberi warna dunia kesenian di kota Bumiayu, pameran-pameran mulai ada, acara-acara pertujukan mulai ramai, dan kegiatan kesenian yang lain. Namun sangat disayangkan Sanggar Kulit berumur pendek, sanggar tersebut mulai non aktif dan bubar kira-kira pada tahun 2002. Munurut beberapa sumber, keberadaan sanggar ini dimasuki oknum-oknum yang tidak berkompetensi di bidangnya. Mungkin ini gambaran singkat dari perjalanan Sanggar Kulit yang singkat dan mungkin juga penuh kontroversi.
Bumiayu kembali vakum  dalam dunia kesenian, terutama seni rupanya. Tetapi disisi lain, banyak komunitas-komunitas seni musik yang bermunculan. Ini ditandai dengan banyaknya acara musik yang diadakan, banyaknya band-band yang bermunculan, dan event organizer. Dunia seni rupa di kota tersebut benar-benar vakum untuk waktu yang cukup lama. Para bekas anggota dari kedua sanggar tersebut mulai sibuk dengan pekerjaan masing-masing, dalam hal pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Mungkin menurut pemikiran mereka, dunia berkesenian di kota kecil tidak menjanjikan keuangan yang cukup, sehingga mereka bekerja di luar seni. Hal ini dibuktikan oleh sebagian beberapa anggota yang merantau ke ibukota, bekerja serabutan, dan berwirausaha. Tetapi tidak dipungkiri sebagian dari mereka masih ada yang tetap berkarya dan berkesenian, seperti yang dilakukan oleh Suyatno, Nurkholis, dan Agep.
Kevakuman dunia seni rupa Bumiayu, setelah periode kedua sanggar tersebut berlangsung cukup lama kira-kira lima tahunan. Tetapi di dalam diam itu ada pergerakan yang secara pelan tapi pasti mulai menajamkan untuk muncul ke permukaan. Pergerakan yang secara diam-diam itu di mulai oleh Lukman Aris dan Alik Setiawan. Kedua pemuda itu mempuyai pemikiran yang baru dan cemerlang, mereka bermaksud mendirikan perkumpulan yang menampung insan seni yang potensial. Dengan semangat dan energi yang baru, mereka membentuk dan mendirikan perkumpulan yang dinamakan Ikatan Pengembang Bakat Seni (IPBS). Kedua pemuda tersebut mempunyai konsep menampung bakat seni dan mengembangkan dunia seni di Bumiayu, khususnya seni rupa. Dan sebagai tempat untuk berkumpul dan berdiskusi tentang kesenian, dipusatkan di toko souvenir Lukman Aris yang berlokasi di depan kantor Pegadaian Bumiayu. Alik setiawan yang mempunyai latar belakang pendidikan seni rupa di kampus ISI Yogyakarta, dipercaya oleh teman-teman sebagai leader dalam perkumpulan tersebut.
Pameran perdana kelompok IPBS, dengan tajuk ” Freedom Expression on the Road”
Perkumpulan yang baru terbentuk secara tidak sengaja mempertemukan dua generasi yang berbeda, yaitu alumni sanggar Karya Lestari dan Sanggar Kulit. Nama-nama yang masuk dalam perkumpulan ini antara lain Bpk. Sudarsono, Suyatno, Agep, (mewakili generasi tua),Alik Setiawan , Lukman Aris, Martin Awom, Deny Aris Susanto, Muhamad Ali Sobah, Fery Jangkung, Purwanto, Iwan K, Agus Pakujati, dan Bachtiar Fugara. Setelah terkumpul nama-nama diatas maka, rencana kedepan dari perkumpulan ini adalah mengadakan pameran sebagai bukti kepada publik. Dan sebagai bukti eksistensinya maka diadakan pameran yang pertama dengan tema “Fredoom Ekspression On The Road”. Pameran yang pertama dari IPBS dilaksanakan tidak lazim seperti pameran pada umumnya. Dimana pameran ini digelar di trotoar jalan raya, dengan perlengkapan seadanya dan mungkin tidak layak untuk dapat dikatakan sebuah pameran. Kegiatan pameran tersebut cukup memberi kejutan bagi  masyarakat Bumiayu, publik tidak menyangka setelah beberapa tahun tidak ada kegiatan seni, tiba-tiba saja ada pameran lukisan di trotoar yang tidak biasa bahkan mungkin belum pernah ada di Bumiayu. Karya-karya yang ditampilkan dalam pameran ini antara lain Realistik, Naturalis, Dekoratif, Surealisme, Kaligrafi sampai Abstrak.
Pameran tersebut sebagai sinyal akan bangkitnya dunia seni rupa di Bumiayu, walaupun masih kurang dari layak. Dengan adanya pameran tesebut masyarakat Bumiayu beranggapan bahwa seniman bumiayu memang masih ada dan mencoba untuk bangkit kembali dari tidur panjangnya. Pada tahun 2007 bulan Agustus, IPBS mengadakan pameran lagi yang diberi judul “Bumi Art You”. Pameran yang kedua ini dilaksankan di trotoar lagi dengan konsep pameran yang berbobot dan lebih baik. Pameran Bumi Art You ini menampung karya seniman dari kota Bumiayu dan kota lainnya seperti dari Banyumas, Temanggung, Yogyakarta, dan Jakarta. Dan pameran ini menampilkan karya-karya dengan berbagai macam aliran, mulai dari Realis, Naturalis, Kaligrafi, Surealisme, Ekspresionisme, Abstrak hingga Kontemporer. Dengan banyaknya jenis lukisan yang ditampilkan, secara tidak langsung memberikan wawasan baru bagi masyarakat Bumiayu. Dan pameran ini cukup mendapat sambutan hangat dari masyarakat, ini dibuktikan dengan ramainya apresiasi yang diberikan oleh masyarakat.

Suasana pameran BumiArtyou yang diadakan oleh IPBS.
Yang jadi pertanyaan, kenapa IPBS mengadakan pameran di trotoar? Hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah tidak adanya gedung kesenian di kota tersebut. Pemerintah setempat seolah tutup mata terhadap acara-acara kesenian, terutama seni rupanya. Faktor lainnya adalah apresiasi masyarakat Bumiayu masih sangat minim terhadap seni rupa, sehingga pameran-pameran tersebut dilaksanakan di trotoar. Sehingga diharapkan masyarakat dapat dengan mudah mengakses dan melihat langsung, tanpa harus mengeluarkan biaya yang banyak. Memang dengan diadakan pameran di trotoar tersebut, masyarakat dengan antusias mengapresiasi karya-karya yang dipamerkan.
Sampai pada tahun-tahun berikutnya, IPBS sering diundang untuk mengikuti pameran di acara Bumiayu Fair, dengan mengisi stand dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Setelah mengadakan pameran-pameran yang cukup banyak, IPBS vakum selama kurang lebih tiga tahunan, dan selama vakum tersebut tidak ada kegiatan kesenian di Bumiayu. Hingga pada akhirnya tahun 2011, IPBS mengadakan pameran yang diadakan di stasiun Bumiayu. Pameran ini bekerjasama dengan PT.KAI, dengan mengangkat tema “Sebuah Ekpresi Cinta Kereta Api”. Dalam pameran ini setiap seniman diwajibkan, menampilkan salah satu karya dengan tema kereta api. Dan karya-karya yang ditampilkan cukup bervariasi dengn penambahan konsep karya tentang kereta api. Pameran ini hanya diikuti oleh para anggota IPBS, tanpa mengundang para seniman di luar daerah, dikarenakan kurangnya persiapan. Walaupun pameran tersebut kurang maksimal dalam persiapan, tetapi mendapat sambutan yang cukup bagus dari masyarakat.

Liputan dari media cetak tentang pameran seni lukis BumiArtyou.
Perkumpulan seniman Bumiayu yang tergabung dalam IPBS, bisa dikatakan cukup aktif mengadakan pameran seni rupa. pameran-pameran yang diadakan Alik Setiawan dan kawan-kawannya, dilaksanakan secara mandiri tanpa bantuan dana dari pemerintah setempat. Pendanaan dalam pameran-pameran tersebut diperoleh dari sumbangan masyarakat Bumiayu dan sponsor. Disini peran pemerintah daerah jelas kurang memperhatikan dunia kesenian, khususnya seni rupa. Sebagai catatan saja, dari seluruh perkumpulan yang pernah ada, mereka bergerak secara mandiri. Bantuan dana dari pemerintah daerah tidak pernah sampai ke tangan penggiat seni, hal ini menjadi semacam polemik antara para seniman dan pemerintah daerah. Dunia kesenian dikota Bumiayu memang jauh dari apa yang diharapkan para penggiat seni. Pemerintah, dalam hal ini adalah Dewan Kesenian Daerah (DKD) seolah kurang memperhatikan kegiatan berkesenian.
Bumiayu, sebuah kota kecil di ujung selatan kabupaten Brebes ternyata menyimpan sejarah tentang dunia seni. Bumiayu memang tidak identik dengan dunia seni, imej yang melekat di kota tersebut adalah Kota Santri. Tetapi fakta memang ada, ternyata kota kecil tersebut menyimpan insan-insan seni yang gigih dalam memperjuangkan nilai-nilai kesenian. Ini ditandai dengan kemunculan sanggar seni dan kelompok seni, yang tetap konsisten dengan mengibarkan panji-panji kesenian mereka. Para penggiat seni mencoba mengenalkan seni rupa, menggiatkan dunia kesenian dikota mereka, mencoba membuat pandangan baru dalam berkesenian. Walaupun disisi lain komponen-komponen kesenian tidak mendukung atau bahkan tidak ada, untuk dapat mendukung perjuangan mereka. Sehingga seniman yang terbagung dalam kelompok seni tidak dapat mengekspresikan jiwa seni mereka secara maksimal,dan bahkan kelompok seni tersebut berumur pendek. Tetapi penulis yakin, bahwa seniman Bumiayu memang tidak kenal menyerah, tetap semangat, dan terus bergerak untuk mewujudkan dan menyempurnakan nilai kesenimanannya. Dan berusaha membawa nama daerahnya di kancah seni nasional atau bahkan internasional. Mungkin itu sedikit catatan singkat tentang perjalanan para pelaku seni yang ada di Bumiayu.
Salam Budaya !!
Narasumber :
·         Bpk.Sudarsono.
·         Suyatno.
·         Heppy(kidung Setan Kober).
·         Haris “Agep” Zulfikar.
·         Lukman Aris.

Eksotisme Kaligua di Bumiayu

 Eksotisme Kaligua di Bumiayu

Warga di kawasan Brebes Selatan tentunya tidak asing lagi dengan Kaligua, ya sebuah tempat wisata agro di kaki Gunung Slamet. Kaligua mempunyai eksotisme alam yang selalu menggoda untuk dikunjungi, hawa dingin pegunungan yang sejuk membuat kita merasakan ketenangan yang tidak kita dapatkan di suasana kota. Mata kita akan dimanjakan secara visual, dengan hamparan gunung, lembah hijau, perkebunan sayur, pepohonan pinus, dan kebun teh yang sangat luas. Keberadaan kawasan kebun teh kaligua sudah ada sejak penjahahan kolonial Belanda. Pemerintah kolonial Belanda melalui divisi dagangnya yaitu V.O.C (Vereenigde Oost Indische Compaignie), mengeruk kekayaan alam bumi persada berupa rempah-rempah dan hasil buminya. Hal itu berlangsung cukup lama, dan seluruh wilayah Nusantara tidak luput dari usaha Belanda untuk mengeruk kekayaan alamnya. Hal itu pula berlaku di wilayah Brebes, hingga terciptanya perkebunan teh kaligua.

Sekilas Sejarah Kebun Teh Kaligua.
Keberadaan kebun teh di wilayah Brebes tepatnya di kecamatan Paguyangan, tentunya memiliki unsur historis yang menarik untuk dipelajari. Kesejarahan tersebut sejalan dengan proses kemerdekaan bangsa Indonesia, yang dulunya benama Hindia Belanda. Tanah Hindia merupakan tanah yang subur di negeri timur, negeri timur dimata orang Barat mempunyai kekayaan alam yang berlimpah. Dari mulai hasil bumi, rempah-rempah, batu mulia, minyak dan warisan budaya Hindu-Budha. Unsur alam dan budaya tersebut ternyata membuat bangsa Eropa berlabuh di tanah nusantara. Kedatangan bangsa Eropa (Inggris, Belanda) tersebut memang bermaksud untuk menjajah dan mengeksploitasi kekayaan alamnya. Disamping juga sebagai bukti untuk menunjukan keperkasaan suatu Bangsa tersebut. Bangsa Eropa yang mempunyai kebiasaan menaklukan daerah-daerah baru, dengan segala cara berusaha menaklukan daerah jajahan tersebut. Cara-cara yang kasar dan kadang tidak manusiawi dilakukan oleh Penajajah, untuk dapat mencapai tujuan guna menghasilkan kekayaan bangsanya sendiri.
Diwilayah Jawa hampir keseluruhannya telah dijajah oleh kolonial Belanda, karena itu di Jawa telah dijadikan pusat eksploitasi V.O.C yang sangat menguntungkan. Untuk dapat mengeruk keuntungan secara ekonomis, segala cara dihalalkan untuk dapat mewujudkannya. Tak terkecuali kekerasan dan kerja paksa dilakukan oleh pemerintah kolonial terhadap rakyat pribumi. Masyarakat pribumi merasakan penderitaan yang sangat panjang dan menyiksa. Begitu pula yang terjadi di kawasan Brebes, mengalami sistem kekerasan yang dilakukan pemerintah Belanda. Daerah kabupaten Brebes pada waktu itu merupakan daerah yang ramai walaupun masih banyak hutannya. Daerah pegungungan seperti Bumiayu dan sekitarnya, pada jaman pelaksanaan tanam paksa (cultuurstelstel) banyak ditanam  kopi, terutama di wilayah Paguyangan.
Jadi secara historis wilayah Brebes Selatan dulunya banyak ditanami kopi, tanaman teh baru dibudidayakan sekitar tahun 1837 di seluruh Jawa pada waktu itu. Sistem yang digunakan oleh Belanda dalam membuka lahan dan perkebunan dengan tanam paksa (cultuurstelstel). Sistem tanam paksa sendiri pertama kali diterapkan oleh Gubernur Jendral J. Van Den Bosch, yang diberlakukan sejak tahun 1830. Konsep ini sungguh jitu untuk mengeksploitasi ekonomi yang maksimal dalam dalam kondisi sosial ekonomi Jawa pada masa itu. Sistem tanam paksa sendiri memadukan unsur-unsur tradisional, yaitu menguasai tanah dan tenaga kerja lewat para penguasa pribumi, menggunakan paksaan untuk menanam tanaman ekspor kepada rakyat petani Jawa, dengan unsur-unsur modern yaitu manajemen produksi dan pemasaran di bawah monopoli pemerintah Kolonial. Tetapi pemerintah kolonial Belanda pada waktu itu lebih mengutamakan komoditas tanaman kopi dan tarum. Tanaman teh, tembakau, dan jati hanya komoditas tanaman kelas dua.
Tanaman yang mempunyai komoditi adalah kopi, sehingga di wilayah Brebes juga banyak ditanami kopi khususnya di wilayah selatan. Budidaya tanaman teh sendiri di picu oleh keberhasilan Koloni Inggris yang mengeksploitasi teh di Srilangka dan Assam di India bagian Timur, membuat pemerintah Hindia Belanda tertarik untuk mengembangkannya di Jawa. Di wilayah Brebes tentunya dibudidayakan tanaman teh di daerah pegunngan, karena salah satu syarat tanaman teh dapat tumbuh adalah di daerah pegunungan. Dan wilayah di Brebes yang terdapat pegunungan adalah di Brebes Selatan, tepatnya di daerah Paguyangan di kaki gunung slamet. Perkebunan teh Kaligua didirikan tahun 1899 oleh Cultuur Onderneming di Negeri Belanda, untuk perwakilan di Indonesia ditunjuk Van John Pletnu & Co yang berkedudukan di Jakarta. Tetapi dalam perkembangannya hingga tahun 1901 perusahaan ini di beli dan di kelola pengusaha Van de Jong. Dan pada masa pendudukan Jepang sekitar tahun 1942, pengelolaan kebun teh di ambil alih oleh Jepang.
Syarat penanaman teh tidak jauh dengan kopi, yaitu menggunakan tanah belukar atau tegal di lereng gunung atau perbukitan. Penanaman dan pemeliharaan kebun teh dilaksanakan dengan kerja-wajib oleh kuli kenceng seperti halnya kopi. Dapat dibayangkan ketika dulu sebelum ada kebun teh Kaligua, adalah hutan belantara dengan pepohonan yang besar dan rimbun. Sehingga untuk membuka lahan untuk perkebunan teh, membutuhkan pekerja untuk dapat menebang pohon-pohon di hutan. Melalui kekuasaan bupati inilah rakyat dikerahkan  untuk menebang pohon-pohon di hutan-hutan. Kerja-wajib tertua (yang diepergunakan oleh penguasa kolonial) ini disebut kerja Blandhong. Beratnya kerja-wajib blandhong sering menyebabkan rakyat melarikan diri ke kabupaten lain agar terbebas dari beban tersebut. Itulah sedikit cerita tentang para pekerja yang membuka lahan untuk budidaya tanaman teh di tanah Jawa tak terkeculai di Kaligua di Paguyangan.
Untuk melengkapi produksi teh tersebut, maka dari itu didirikanlah pabrik pengolahan teh untuk dapat dijadikan komoditas ekspor. Di Kaligua sendiri pendirian pabrik pengolahan teh tersebut, dikerjakan oleh para rakyat pribumi yang diperintah oleh pemerintah kolonial. Konon pada saat pembangunan pabrik, para pekerja membawa ketel uap dari Paguyangan menuju Kaligua ditempuh dalam waktu 20 hari. Peralatan tersebut dibawa dengan rombongan pekerja yang berjalan kaki naik sepanjang 17 km. Selama proses pengangkutan tersebut, para pekerja pada saat istirahat dihibur oleh kesenian ronggeng Banyumas. Sampai sekarang setiap memperingati HUT pabrik Kaligua setiap tanggal 1 Juni selalu ditampilkan kesenian tradisional tersebut. Dapat dibayangkan pekerjaan tersebut pada jaman itu belum ada transportasi modern, yang dapat mempermudah dan mempercepat suatu pekerjaan. Sehingga pekerjaan berat dikerjakan dengan tenaga manusia yang membutuhkan tenaga ekstra dan waktu yang cukup lama. Dengan pola kerja yang berat tersebut akhirnya kebun teh Kaligua dan sarana pendukungnya ada dan lestari sampai sekarang. Dan kebun teh Kaligua sekarang sudah menjadi magnet wisata yang potensial di wilayah Brebes Selatan, yang selalu ramai dikunjungi para wisatawan dari berbagai daerah.

Eksotisme Kaligua.
Hasil peninggalan kolonial Belanda tersebut sampai sekarang masih tetap terjaga, dan menjadi salah satu objek wisata andalan yang dipunyai oleh Kabupaten Brebes. Letak geografis dari Perkebunan teh Kaligua berada pada ketinggian 1200 - 2050 m dpl. Kondisi udara sangat dingin, berkisar 8° - 22° C pada musim penghujan dan mencapai 4° -12° C pada musim kemarau. Jadi tidak heran kalau wilayah perkebunan teh ini hampir selalu diselimuti kabut tebal. Perkebunan teh tersebut terletak di lereng barat Gunung Slamet (3432 m dpl) yang merupakan gunung tertinggi kedua di pulau jawa setelah Gunung Semeru. Dari salah satu tempat di perkebunan teh Kaligua kita dapat menikmati keindahan puncak gunung Slamet dari dekat, melalui puncak Sakub.
Untuk dapat mencapai ke pegunungan Kaligua dapat ditempuh dengan kendaraan umum atau dapat menggunakan sepeda motor. Lokasi wisata agro Kaligua terletak sekitar 10 kilometer dari arah kota Kecamatan Paguyangan, atau sekitar 15 kilometer dari Bumiayu. Jalur transportasi dapat ditempuh melalui jalur utara dari Brebes atau Tegal-Bumiayu-Kaligua, Cirebon-Bumiayu-Kaligua. Dan jalur selatan dari Purwokerto-Paguyangan-Kaligua, dimana transportasi jalur tesebut selalu ramai karena berada di jalur Provinsi. Semua transportasi umum tersebut kemudian harus berhenti di pertigaan Kretek, yang kemudian dapat dilanjutkan untuk dapat mencapai tujuan dengan menggunakan ojek atau anggkutan pedesaan. Bagi yang menggunakan kendaraan pribadi tentunya dapat lebih mudah untuk dapat sampai tujuan tanpa harus naik turun dari transportasi umum.
Ketika sudah berada di jalan utama yang menuju ke Kaligua, jalanan sudah mulai naik dan di kanan-kiri jalan terdapat rumah penduduk, sawah, sungai, pegunungan, lembah, dan hutan pinus. Jalan sudah mulai naik dan berkelok-kelok dan hawa pegunungan sudah mulai terasa. Akses jalan utama tersebut kondisinya masih mulus, sehingga mempercepat untuk dapat sampai ke lokasi. Ketika sudah memasuki desa Pandansari akan ditemui perkebunan sayuran, sayur yang ditanam di daerah tersebut berupa kentang, kobis, rangkok, dan sayuran lainnya. Hamparan hijau ladang sayur di kelilingi pepohonan rimbun memanjakan penglihatan kita, ditambah hawa dingin pegunungan yang sejuk membuat kita bisa berlama-lama menyelami keindahannya. Dari desa Pandansari naik ke atas lagi akan ditemui Telaga Ranjeng yang masih menyimpan banyak misteri dan cerita mistik.
Telaga Ranjeng yang terletak di antara desa Pandansari dan desa Taman, berada di tepi jalan utama sebelah kiri jalan. Untuk dapat masuk ke area Telaga Ranjeng kita tidak perlu berjalan jauh, hanya perlu memarkir kendaraan kita diarea tersebut dan kemudian dapat langsung masuk ke area Telaga tersebut. Telaga Ranjeng yang masih terjaga keasriaannya dikelilingi pohon yang sudah berusia ratusan tahun. Sehingga area tersebut terkesan rimbun karena banyak pepohonan dan tumbuhan semak yang tumbuh disekitar telaga tersebut. Yang menjadi istimewa dan unik adalah di telaga Ranjeng terdapat ribuan ekor ikan lele yang akan muncul dan mendekat ketika diberi makan. Untuk asal-usul dari ribuan ikan lele tersebut masih misteri, keberadaan ikan lele di telaga tersebut konon sudah ada sejak dulu. Menurut cerita dari warga sekitar jika kita mengambil ikan lele tersebut maka akan terjadi  bencana atau malapetaka. Memang dalam masyarakat Jawa terdapat hal-hal yang tidak diperbolehkan atau yang disesbut dengan pamali. Pamali dituturkan oleh para nenek monyang kita, supaya kita memerhatikan dan mematuhi peraturan yang ada. Seperti ketika berada ditempat yang masih asing atau sakral, kita dituntut untuk mematuhi aturan yang ada dan tidak merusak alam. Sehingga terjadi keseimbangan antara mikrokosmos dan makrokosmos, dengan terjaganya kondisi alam sekitar kita.
Dan biasanya pamali yang disampaikan oleh nenek monyang dalam bentuk metaphor, sehingga kita butuh waktu untuk dapat menafsirkannya. Tetapi pada intinya tujuannya adalah untuk kebaikan kita dan lingkungan sekitar atau alam dimana kita tinggal. Eksotisme dan keasrian Kaligua memang perlu kita jaga dan lestarikan, salah satunya adalah dengan berwisata dan mematuhi aturan yang ada. Setelah puas menikmati keindahan telaga Ranjeng yang masih menyimpan misteri, perjalanan dapat diteruskan menuju ke kebun teh kaligua yang hijau dan luas. Perkebunan teh Kaligua merupakan kawasan wisata agro dataran tinggi yang terletak Kaligua di Desa Pandansari. Kebun Kaligua dikelola oleh PT. Perkebunan Nusantara IX (Persero) Jawa Tengah dan merupakan diversifikasi usaha untuk meningkatkan optimalisasi aset perusahaan dengan daya dukung potensi alam yang indah. Hasil pengolahan perkebunan teh Kaligua adalah berupa produk hilir teh hitam (black tea) dengan merk “Kaligua” dalam kemasan teh celup dan serbuk. Jadi wisatawan yang berkunjung dapat langsung menikmati hangatnya teh hitam (black tea) Kaligua atau dapat membeli sebagai oleh-oleh.
Perkebunan teh yang hijau dan sangat luas tersebut tidak selesai kalau dijelajah selama satu hari. Luas dari kebun teh Kaligua yang mencapai luas 607,25 Ha, dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung untuk berwisata. Fasilitas pendukung untuk menjaga kebersihan lingkungan di area kebun teh, disediakan tempat sampah khusus yang dibagi menjadi dua yaitu sampah organik dan non-organik. Jadi ketika berkeliling kebun teh jagalah kebersihan dengan membuang sampah pada tempat yang telah disediakan. Untuk fasilitas yang lain seperti pos atau gasebo untuk istirahat terdapat di area kebun teh, sambil istirahat sekaligus dapat menikamati indahnya kebun teh yang hijau dan luas. Fasilitas lain seperti penginapan atau vila juga tersedia, untuk mereka yang ingin berlama-lama menikmati alam pegunungan yang indah. Di area kebun teh juga dapat dijadikan untuk camping, dan juga terdapat fasilitas untuk kegiatan outbond serta lapangan untuk kegiatan yang bersifat kelompok.
Selain fasilitas yang disediakan oleh pengelola dari dinas pariwisata, di area kebun teh Kaligua masih terdapat situs-situs bersejarah yang tidak boleh kita lewatkan. Situs seperti Gua Jepang, Tuk Bening, yang berada di balik bukit kebun teh. Gua Jepang merupakan salah satu situs sejarah peninggalan Jepang ketika menjajah Indonesia. Gua Jepang secara fungsional sebagai tempat persembunyian tentara Jepang ketika ketika selesai berperang dan sebagai tempat untuk mengatur siasat perang.  Gua Jepang memang terletak di daerah pegunungan, peninggalan Jepang berupa gua persembunyian hampir dapat di temui di seluruh pegunungan di Jawa. Untuk dapat masuk ke gua Jepang di area Kebun teh Kaligua harus didampingi oleh petugas. Karena kondisi gua yang gelap, lembab, sempit, dan becek, harus mempertimbangkan unsur keselamatan. Tak jauh dari gua Jepang terdapat mata air, yaitu Tuk Bening dengan airnya yang jernih dan segar. Konon menurut cerita, sumber air ini menjadi cikal bakal nama Kaligua.
Di aera kebun teh tersebut juga terdapat makam para sesepuh, yang dulu membuka lahan perkebunan Kaligua. Makam tersebut antara lain makam Van Dee Jong, Mbah Joko, Aki Soka, dan Aki Waslim. Kebun teh Kaligua selalu menarik untuk dikunjungi, dengan berbagai keindahan alamnya dan situs-situs bersejarahnya. Kebun teh Kaligua merupakan wisata andalan dari Kabupaten Brebes, kita sebagai warganya hendaknya berusaha menjaga dan melestarikan warisan sejarah tersebut. Sehingga wisata dengan panorama alam yang ada di wilayah kabupaten Brebes dapat terus lestari. Maka dari itu kita dituntut aktif dalam melestarikan wisata alam dan berwisata dengan sadar akan peraturan. Dengan berwisata dan mematuhi aturan yang ada, diharapkan dapat terjadi keseimbangan antara alam dan manusianya.[]